Seringkali amal sholeh hanya terfokus pada ritual ibadah kepada Sang Pencipta. Padahal amal sholeh baik yang terkecil maupun bersifat spontanitas ini bisa jadi amal sholeh terbaik bagi seseorang yang diterima oleh Allah SWT.
Karena perbuatan amal sholeh ini seringkali terjadi tanpa dipikirkan berlama-lama (spontan) dan spontanitas ini terjadi banyak dipengaruhi oleh kebiasaan berbuat baik dan memiliki kebersihan hati.
Seringkali kebaikan hati dalam memberi dan membantu orang lain disebabkan adanya rasa ikhlas, tulus, penuh kasih sayang, serta empati di dalam dirinya.
Faktor percaya atau keimanan juga merupakan faktor yang mendorong seseorang sering berbuat amal sholeh, karena dirinya percaya bahwa apa yang diperbuatnya akan memantulkan efek balik kembali kepada dirinya.
Dengan demikian sering berbuat amal sholeh misal membayar zakat lalu oleh petugas amil zakat mendoakan orang tersebut. Doa yang dipanjatkan tersebut akan memberikan efek ketentraman, kebahagiaan dan ketenangan jiwa buat si pembayar zakat (muzaki).
Hal ini sesuai dengan ayat di dalam Al Qur'an, yaitu :
(QS. At-Taubah: 103):
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi serta ilmu pengetahuan menjawab kebenaran ayat di atas, memvalidasi dan menjawab dimana para ahli psikologi menyampaikan bahwa perbuatan altruistik seperti berzakat merangsang otak untuk melepaskan hormon endorfin dan serotonin, yang menciptakan perasaan nyaman, damai, dan "high" atau kebahagiaan sejati.
Mengapa Seseorang Menjadi Pelit?
Justru sebaliknya menurut para ahli psikologi bahwa orang pelit atau kikir (bakhil) seringkali memiliki tingkat kekhawatiran dan kecemasan yang tinggi.
Sifat pelit tidak semata-mata tentang menahan uang, melainkan sering menjadi manifestasi dari ketakutan mendalam akan kekurangan.
Adanya Scarcity Mindset menurut psikolog memandang pelit sebagai hasil dari "mindset kekurangan". Orang tersebut hidup dalam keyakinan bahwa sumber daya (uang, harta, atau emosi) mereka tidak pernah cukup, sehingga muncul kecemasan untuk terus menimbun agar merasa aman.
Kecemasan Eksistensial (Existential Anxiety): Orang yang pelit sering kali takut tidak mampu memenuhi kebutuhan masa depan, takut miskin, atau takut tidak memiliki kendali atas hidup mereka. Uang di sini disimbolkan sebagai stabilitas emosional.
Ada rasa takut berlebihan kehilangan harta yang dimiliki, yang memicu perilaku menahan diri untuk berbagi atau mengeluarkan uang, bahkan untuk kebutuhan yang wajar.
Sifat pelit dapat meningkatkan stres kronis, karena mereka cenderung cemas atau merasa bersalah setelah menghabiskan uang.
Why Are Some People So Stingy? Because stinginess is not just about refusing to part with money or belongings. At its core, it is the manifestation of fear and anxiety about scarcity.
Menjaga Semangat Ramadhan
Selama Ramadhan kemarin kita telah dimantik api semangat untuk beramal sholeh dengan memperbanyak sedekah dan membayar zakat serta mengubur sifat dan prilaku negatif seperti berprilaku pelit, kikir atau bekhil.
Kita berharap tidak hanya menang hanya pada satu bulan saja dalam mengendalikan hawa nafsu melainkan juga menang pada sebelas bulan berikutnya, jadi kenapa harus ragu maka raihlah ketentraman dan ketenangan jiwa serta kebahagiaan dengan memperbanyak amal sholeh, bersedekah, berinfak dan berzakat, itu salah satu jalannya.
Semoga kita menjadi manusia yang senantiasa bahagia karena telah membantu orang lain ikut bahagia, Amin YRA.
Penulis pa' Dhe Noer (Al Faqir Ilallah)