RamadhanKeluargaZakat

Mewariskan Kebaikan di Bulan Ramadhan

Deni Nuryadin, Pimpinan BAZNAS Tangsel4 Maret 2026

Rabu, 4 Maret 2026 — Perang melawan hawa nafsu dan pengendalian diri baru memasuki Ramadhan 2026 di hari ke-14.

Terbesit dalam diri sudah sejauh mana ibadah kita sebagai individu pribadi di bulan Ramadhan ini dan tentunya sudah sejauh mana kita sebagai pimpinan perusahaan atau pimpinan di lingkungan atau pada lingkup yang lebih kecil yakni sebagai orang tua.

Sebagai orang tua sudahkah kita mengajak mereka (orang yang paling dekat di lingkungan keluarga seperti istri dan anak-anak) untuk semangat beribadah sebagai upaya mewariskan kebaikan.

Sebagai seorang muslim yang taat maka meningkatkan kesalehan individu kepada Allah di bulan Ramadhan adalah sebuah keniscayaan guna mendapatkan ampunan dosa, meraih pahala sebanyak-banyaknya dari Allah SWT.

Namun terkadang kita lupa bahwa mengajak semangat meningkatkan kesalehan bagi orang lain, terlebih dengan orang terdekat di dalam keluarga kita, adalah juga merupakan kewajiban lainnya.

Memberikan suri tauladan merupakan salah satu caranya sebelum dirinya mengajak orang lain sebagaimana Rasulullah Nabi Muhammad memiliki perilaku terpuji (tidak tercela) sehingga menjadi panutan bagi pengikutnya.

Terlebih dalam Islam bagi orang tua khususnya sebagai suami sekaligus sebagai pemimpin sebagaimana di dalam hadist shahih:

الزَّوْجُ إِمَامٌ فِي أُسْرَتِهِ (Az-zauju imaamun fii usratihi) Artinya: Suami adalah imam/pemimpin dalam keluarganya.

Di dalam kitab Durrotun Nasihin dijelaskan pula bahwa orang tua bertanggung jawab menanamkan adab, iman, dan kecintaan kepada amal saleh sejak dini. Ramadhan adalah madrasah terbaik untuk itu.

Ajak anak berpuasa sesuai kemampuannya, kenalkan makna sabar, berbagi, dan doa. Setiap teladan baik dari orang tua menjadi pahala yang terus mengalir. Ketika anak belajar shalat, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah karena bimbingan kita, itu menjadi amal jariyah.

Menanamkan rasa cinta kasih dan senantiasa berkeinginan untuk membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah mengajak anak sejak kecil untuk terlibat dalam kegiatan prosesi membayarkan zakat, infak, dan sedekah kepada Lembaga Amil Zakat seperti dengan BAZNAS.

Banyak hikmah yang diperoleh dari peristiwa di atas salah satunya adalah pelaksanaan proses pedagogis dengan sendirinya berjalan yakni mendidik dan membimbing. Seiring waktu berproses dan bertambahnya usia anak maka kejadian-kejadian tadi akan terekam di dalam dirinya bahwa ada perintah lain selain bersyahadat, sholat, puasa dan haji yakni kewajiban menunaikan zakat sekaligus menyampaikan pula berlaku syarat dan ketentuan sebagai pengetahuan anak-anak agar gemar berinfak serta bersedekah.

Pertengahan Ramadhan ini adalah momentum membangun generasi takwa. Didik dengan kasih sayang, bukan paksaan. Ramadhan bukan hanya tentang pahala pribadi, tetapi tentang mewariskan cahaya iman dan kebaikan kepada anak-anak kita. Amiin ya robbal alamin.

Deni Nuryadin, M.Si, S.E

Dosen UHAMKA — Ekonomi Islam

Artikel Lainnya